Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya makalah
ini dapat kami selesaikan dengan tepat waktu. Dalam makalah ini membahas
tentang materi Elektronika Dasar II, spesifiknya membahas materi mengenai
“Balikan”.
Makalah ini dibuat dalam rangka
memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi-materi tentang Elektronika
Dasar. Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya penulis mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu ucapan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada : Orang Tua kami yang tak pernah
henti-hentinya memanjatkan doa-doanya demi kesuksesan kami, kepada Dosen
Pembina yang telah sabar membimbing kami, dan terakhir kepada
rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.
Materi yang kami paparkan dalam
makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami butuhkan demi kesempurnaan makalah
ini. Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat.
Palu, 13
februari 2015
Penyusun
HALAMAN SAMPUL
A. TUJUAN
B. PEMBAHASAN
PENUTUP35
·
KESIMPULAN35
A.
TUJUAN
Dari
tersusunnya makalah ini di harapkan mahasiswa/pemabaca dapat:
1. Megetahui
dasar-dasar balikan
2. Mengetahui
pengaruh balikan terhadap frekuensi
3. Mengetahui
pengaruh balikan pada cacat bentuk isyarat
4. Mengetahui
rangkaian balikan dan pengaruh balikan pada impedansi masukan dan impedansi
balikan
5. Mengetahui
analisis rangkaian balikan
6. Mengetahui
beberapa contoh analisis rangkaian balikan
7. Mengetahui
balikan reaktif
8. Mengetahui
penggunaan balikan untuk pengatur gandengan RC
9. Mengetahui
kemantapan balikan
10. Mengetahui
kompensasi frekuensi
B.
PEMBAHASAN
1.
Pendahuluan
Pada kebanyakan penguat yang di
jumpai dalam praktek, sebagian isyarat keluarannya dikembalikan pada masukkan
sehingga isyarat masukan di perlemah. Usaha untuk mengembalikan sebagian
isyarat keluaran kepada masukan disebut balikan (feed-black).
Balikan yang dipasang untuk
memperlemah isyarat masukkan disebut balikan negatif. Sedang balikan yang
dipasang untuk memperkuat masukkan disebut balikan positif.
Suatu contoh rangkaian penguat
dengan balikan negatif adalah seperti pada gambar:
Gambar (1) rangkaian penguat dengan
balikan negatif
Balikan dilakukan oleh RF dan
R1. Pada rangkaian ini RF dan R1 membentuk
pembagi tegangan sehingga sebagian tegangan keluaran , yaitu:
Dikembalikan pada emitor transistor
.
Balikan negatif akan membuat sistem
menjadi lebih mantap. Suatu penguat dikatakan tidak mantap jika mudah
berosilasi. Dalam keadaan osilasi penguat menghasilkan isyarat keluaran
walaupun masukan tak di beri isyarat. Ini tak diinginkan terjadi pada penguat.
Dengan menggunakan balikan negatif akan
diperoleh tanggapan frekuensi lebih lebar, dan cacat yang lebih kecil pada
bentuk isyarat keluaran .
Balikan positif digunakan bila kita ingin
membuat suatu osilator, yaitu rangkaian elektronik yang menghasilkan isyarat
yang terkendali tanpa adanya isyarat masukan. Osilator digunakan pada pembangkit
isyarat, pada radio, tv, dsb.
2.
Dasar
Balikan
Namun perlu diperhatikan bagaimana
membuat penguat yang baik. Penguat yang baik adalah penguat yang keluarannya
merupakan copy dari isyarat masukan, mempunyai tanggapan frekuensi yang
lebar, keadaan panjarnya cukup stabil dan mempunyai keluaran yang tidak
tergantung pada beban yang dipasang.
Dengan
teknik balikan, maksud tersebut mungkin dapat tercapai. Dengan teknik ini sebagian
dari isyarat keluaran dikembalikan lagi ke masukan. Balikan yang dipasang untuk
memperlemah masukan disebut “balikan negatif”, sedangkan pada “balikan positif”
masukan diperkuat.
Gambar
(2) Skema rangkaian dasar balikan
Rangkaian
dasar dari balikan negatif terdiri atas tiga komponen seperti ditunjukkan pada
gambar (1).
1. Penguat
A dengan fungsi
vo= A vi
...............................................................(1)
2. Jaringan
kerja balikan b dengan
fungsi
vf = b vo...............................................................(2)
Biasanya
kita memerlukan b yang
sangat stabil, yang biasanya terdiri atas pembagi tegangan sederhana.
3. Penjumlah
S dengan fungsi
vi=vs-vf.................................................................(3)
Idealnya,
A mempunyai harga sangat besar, karenanya vi=vo/A mempunyai
harga sangat kecil dan mendekati nol volt, yaitu pada keadaan “tanah maya” (virtuil
earth). Karena:
vs-vf
=vi................................................................(4)
dan
vi
»0......................................................................(5)
Kita
mempunyai:
vs » v f = b vo..........................................................(6)
vs » v f = b vo..........................................................(6)
sehingga kita
mendapatkan:
vo/vs =1/ b............................................................(7)
Terlihat
bahwa besarnya penguatan vo/vs tidak tergantung pada A, tetapi hanya
tergantung pada b.
Besarnya A tergantung pada besaran-besaran transistor, sedangkan b dapat
diperoleh dengan sebuah pembagi tegangan.
Perhatikan
bahwa pada gambar 15.1, rangkaian berupa sebuah lingkar tertutup (closed loop)
yang terdiri dari
S
: penguatan -1
A
: penguatan A
b :
penguatan b
Total
penguatan pada lingkar tertutup disebut “penguatan lingkar” dan besarnya adalah
- Ab
. Rangkaian ini membandingkan hasil copy bvo
dari vo
dengan vs pada S. Segala ketidaksesuaian dinyatakan
sebagai kesalahan dan diperkuat A kali untuk melawan kesalahan awal pada vo. Jadi kesalahan awal harus
dilawan, sehingga penguatan lingkar harus negatif ( Ab
); dan karenanya balikan ini disebut balikan negatif (negative feedback).
Hubungan
“penguatan lingkar-tertutup” (vo/vs)
dalam bentuk “penguatan lingkar-terbuka” (A)
dan balikan (b)
sebagai berikut.
Kita mempunyai:
vo
= Avi
=A(vs –bvo)
Sehingga:
vo
= Avs - Abvo...............................................(6)
vo/vs=
A/(1+Ab) = 1/(1/A+ b)
jika 1/A
<< b bentuk di atas akan menjadi:
vo/vs = 1/ b
jadi
penguatan hanya tergantung sepenuhnya pada b , dimana ini dapat dibuat dengan
sepasang resistor.
3.
Pengaruh
balikan terhadap tegangan frekuensi
Sudah
ditunjukkan sebelumnya bahwa balikan negatif dapat mengatasi penurunan A akibat
penggantian transistor. Kita juga berharap balikan negatif dapat mengatasi
penurunan A akibat terbatasnya tanggapan frekuensi (frequency
response).
Gambar
(3) Peningkatan tanggapan frekuensi dengan balikan
Gambar
3 (kurva R) memberikan ilustrasi tanggapan frekuensi penguat sederhana, dimana
tanggapan frekuensinya mempunyai kelemahan akibat adanya rangkaian RC
lolos-rendah dan juga rangkaian RC lolos tinggi.
Dapat
dibuktikan bahwa dengan memasang lingkar balikan pada penguat di atas, maka
rangkaian akan mempunyai tanggapan frekuensi dengan frekuensi 3 dB sebagai:
f’FT=
fFT (1+ Ab ) (Bagian frekuensi tinggi) (7)
f’F=
(Bagian frekuensi rendah) (8)
dalam
persamaan (7) & (8) nampak bahwa tanggapan frekuensi dapat ditingkatkan
(melebar) dengan faktor yang sama, yaitu sebesar (1+
Ab
) walaupun
penguatan mengalami penurunan.
Karena
A<<
dimana A
adalah penguatan lingkar terbuka, dan 1/ b mendekati
harga penguatan lingkar-tertutup, maka:
A/(1+
Ab) » 1/b.................................................................(9)
Namun demikian
saat A » 1/b , maka:
A/(1+
Ab) » A.....................................................................(10)
Jadi
sepanjang penguatan lingkar-tertutup lebih kecil dari A, penguatan akan berharga
~1/b.
4.
Pengaruh
balikan pada cacat bentuk isyarat
Secara ideal, keluaran vo
dari sebuah penguat adalah merupakan fungsi linier dari masukan vi seperti diperlihatkan pada gambar 3-a, dalam bentuk
vo= ao+ a1
v1.........................................................(10)
Namun pada prakteknya, linieritas
tersebut tidak sempurna; untuk penguat transistor tunggal, akan berupa fungsi
eksponensial. Kita memerlukan lebih banyak suku dari deret Taylor (seperti
terlihat pada gambar 3-b,
vo
= a1vi + a1
......................................................(11)
Gambar (3)
Keluaran penguat (a) kondisi ideal dan (b) keadaan riil
Jika masukan berupa frekuensi
tunggal
vi =
V sin w
t ................................................................(12)
Dengan persamaan 15.12 dapat
diselesaikan dengan memasukkan persamaan (11) yang secara praktis berupa
penyelesaian persamaan trigonometeri yang akan menghasilkan keluaran dengan
frekuensi baru (frekuensi harmonik)
5.
Rangkaian
balikan dan pengaruh balikan pada impedansi masukan dan impedansi keluaran
Kita telah membahas pengaruh rangkaian balikan terhadap penguatan
tanggapan amplitudo dan cacat. Kini marilah kita meninjau bagaimana balikan mempengaruhi
impedansi keluaran dan impedansi masukan. Ini tentu bergantung pada cara
bagaimana kita memasang rangkaian balikan.
Rangkaian
balikan dapat dipasang paralel dengan
keluaran seperti pada gambar12.5
Rangkaian
balikan yang dimaksud terdiri dari R3 dan R2 dan dipasang
seri dengan masukan. Resistor R3
dan R2 membentuk suatu pembagi tegangan sehingga
Pada
gambar, rangkaian balikan R3 dan R2 dikatakan terhubung
paralel dengan keluaran sebab kalau kedua resistor ini dilepas arus keluaran iC (Q2) tidak
terputus, yang berarti R2 dan R3 menyimpangkan sebagian
dari atas keluaran, atau R2 dan R3 paralel dengan keluaran.
Di lain
pihak, apabila rangkaian R2 dan R3 dilepas maka arus pada
masukan, yaitu iC (Q1)
akan terputus oleh karena R2 bersambung (seri) dengan transistor Q1.
Oleh sebab itu, balikan R3 dan R2 dikatakan seri dengan masukan.
Dalam hal
ini isyarat balikan sebanding dengan tegangan isyarat keluaran. Balikan yang
paralel dengan keluaran ini disebut balikan
tegangan. Rangkaian balikan pada
gambar 1 disebut balikan tegangan seri,
artinya tegangan yang dipasang seri
dengan masukan. Cara lain untuk memasang balikan adalah seprti pada gambar 2.
Disini
balikan dipasang seri dengan keluaran dan paralel dengan masukan. Balikan
dilakukan oleh R6, yang mengalirkan arus balikan
Pada
umumnya dibuat agar i0 R5 » vi , sehingga
. Tampak bahwa isyarat
balikan yaitu if sebanding dengan arus keluaran, sehingga balikan
yang dipasang seri dengan keluaran disebut balikan
arus. Rangkaian balikan pada gambar 2 disebut balikan arus paralel, artinya balikan arus yang dipasang paralel pada masukan.
Ada dua
cara lain untuk memasang balikan, yaitu balikan tegangan paralel pada gamabar 12.7a dan balikan arus seri.
Kembali
kepada pengaruh balikan terhadap impedansi keluaran dan impedansi masukan,
secara umum dapatlah dikatakan berlaku aturan berikut. Balikan yang dipasang
paralel akan menyebabkan impedansi keluaran atau masukan yang bersangkutan
menjadi lebih kecil, yaitu dikalikan
dengan
.
Sebagai
contoh, pada balikan tegangan seri rangkaian balikan dipasang paralel dengan
keluaran dan seri dengan masukan maka,
Disini
tanda lt berarti lingkar tertutup
yaitu dengan balikan terpasang, dan tanda lb
(lingkar terbuka) tanpa balikan.
6.
Analisis
rangkaian balikan
Pada
pembahasan di atas tampak pengaruh balikan selalu timbul dalam faktor (1+ᵝv Kv,
lb). Cara menghitungnya yaitu penguatan tnpa balikan dengan memperhitungkan
pembebanan oleh rangkaian balikan ?
Dengan
adanya rangkain balikan maka Kv , lb menjadi berbeda
dengan Kv , lb tanpa rangkaian balikan. Dikatakan bahwa
rangkaian balikan mempengaruhi atau membebani rangkaian lingkar terbuka.
Dengan
adanya rangkaian balikan maka Kv
, lb dengan memperhitungkan pembebanan oleh rangkaian balikan
mengikuti cara yang kemukakan oleh Hillman dan Halkias dalam buku “Integrated
Electronics”.
a. Balikan
tegangan seri
Marilah
kita menganalisis bagaimana kita menentukan Kv , lb untuk balikan tegangan seri seperti
pada gambar. Hambatan R7 sebetulnya juga membentuk balikan akan tetapi balikan
DC, sebab R5 dan R6 tak dilalui arus isyarat berhubung adanya kapasitor pintas
CE. Balikan DC ini dipasang agar titik kerja mantap, tak mudah bergeser pada
garis beban.
Balikan
ac (isyarat) adalah melalui R3 dan R2. Dalam membahan rangkaian lingkar terbuka
dengan memperhitungkan pengaruh rangkaian balikan pada penguat lingkar terbuka
dapat kita ikuti aturan beriikut. Dilihat dari masukan, rangakaian balkan yang
paralel dengan keluaran dapat dipandang seolah-olah pada keluaran dihubungkan
dengan tanah yang seperti dilukiskan pada gambar.
Tampak
bahwa dilihat dari masukan, ujung R3 yang dipasang paralel dengan keluaran
dipandang berhubungan dengan tanah, seperti pada gambar berikut:
Dilihat
dari keluaran maka ujung R2 yang dihubungkan seri dengan masukan dapat
dipandang terlepas dari rangakaian masukan, sehingga R2 tampak menjadi
bersambung seri dengan R3 seperti terlihat pada keluaran Q2. Dari gambar
diperoleh :
dengan
Faktor balikan
dengan
Sehingga
Perhatikan
bahwa pada gambar R7 + R5 // R6 ada diluar
jalur balikan, sehingga tak terpengaruh oleh balikan. Di lain pihak hambatan
masukan transistor Rit,lb merupakan bagian dari balikan, sehingga
pada bagian keadaan lingkar tertutup Rit,lb = Rit,lb (1+ᵝv
Kv) oleh karena balikan terpasang seri dengan masukan. Dari gambar
dapat disimpulkan bahwa :
Akibatnya
hambatan masukan total untuk lingkar tertutup
Untuk hambatan keluaran
(R3 + R2) // R4 bersama dengan
langsung terpengaruh oleh balikan, oleh karena
itu Ro, lb = (R3 + R2) R4
dan Ro, lt =
oleh karena balikan terhubung paralel dengan
keluaran.
b. Balikan
tegangan paralel
Sekarang
kita membahas rangkaian balikan tegangan paralel seperti pada gambar.
Mengikuti cara
menghitung Kv , lb menurut Milman-Halkias kita gunakan pendekatan
berikut. Oleh karena rangkaian balikan pralalel dengan keluaran, maka dipandang
dari masukan, ujung R2 yang dihubungkan dengan keluaran dapat dianggap
berhubungan dengan tanah seperti pada gambar.
Oleh karena rangkaian
balikan R2 dihubungkan paralel dengan masukan, maka dipandang dari
keluaran, ujung R2 yang dipasang paralel dengan masukan dianggap
berhubungan dengan tanah.
Dari gambar dapat
diperoleh
dengan
Dari gambar tampak
7.
Beberapa
contoh analisis rangkaian balikan
Pada penguat Lindsey – Hood, bahwa R4 membentuk rangkaian balikan DC
oleh karena titik c ada pada tanah ac. Rangkaian R3-R2 membentuk balikan ac dan
dc. Kedua balikan di atas mengikat titik operasi agar betul-betul mantap tak
mudah berubah letaknya pada garis beban.
Kita perlu menentukan tegangan-tegangan dc pada berbagai tempat
di dalam rangakaian. Kita juga perlu mengetahui berapa penguat arus, yaitu ᵝ ,
masing-masing transistor. Marilah kita gunakan BC 109 u ntuk Q1 dan Q2 yang
mempunyai ᵝ1 =
2 = 300. Kita dapat menganggap bahwa
titik kerja Q1 dan Q2 ditengah garis beban DC, oleh karena pencipta rangkaian
ini membuat titik kerja di tengah garis beban ac.
8.
Balikan
reaktif
Rangkaian
balikan yang telah kita bahas sebelumnya tidak mengandung kapasitor, sehingga
faktor balikan
, tidak bergantug pada frekuensi. Pada
beberapa penggunaa di perlukan tanggapan amplitudo frekuensi dengan bentuk
tertentu, seperti misalnya pada penguat untuk kaset, untuk piringan hitam,
untuk nada dan untuk tapis. Untuk maksud ini digunakan rangkaian balikan yang
menggunakan kapastor.
1. Prapenguat
kepala kaset.
Sebagai
contoh adalah prapenguat kepala kaset untuk kaset untuk main kembali.
Penguat
untuk lingkar terbuka:
Kv,lb
3000
Dan
faktor balikan
=
=
Dengan
=
;
=
=
Jika
R2 = 56 K; R3 = 300 ; R1= 39 K ; C = 33 nF
Berarti
=
= 540 rad/s
= 7182 rad/s
Oleh
karena
maka :
=
=
Tampak
bahwa
adalah suatu nol dan
suatu kutub. Untuk
>>
atau
maka,
=
= 13
Sedang
untuk
<<
atau
maka,
=
=
)
=
=
)
Dengan
menggunakan pendekatan bode kita dapat lukiskan tanggapan amplitudo penguat
seperti pada gambar dengan kutub\
f1 =
=
= 85
Hz dan
>>
,
, dan
nol
f2 =
=
= 1143
Hz.
=
= 22 dB
Tanggapan
amplitudo seperti ini di perlukan oleh karena kepala kaset menghasilkan
tanggapan amplitudo isyarat rekuensi tinggi lebih kuat dari pada isyarat
frekuensi rendah.
Untuk
mengimbangi ini diperlukan prapenguat yang mempunyai penguatan besar yang
mempunyai penguatan besar pada frekuensi rendah seperti pada gambar. Dengan
cara ini prapenguat di atas kita hubungkan kepala kaset, isyarat yang
dihasilkan kepada keluaran yang sama untuk untuk daerah frekuensi audio (20 Hz
– 15 KHz). Dengan kata lain tanggapan amplitudo diatas menghasilkan tanggapan
yang sama untuk berbagai nilai frekuensi. Dikatakan bahwa tanggapan amplitudo
diatas menghasilkan penyamaan. Pemyamaan untuk kepala kaset disebut penyamaan NAB . Penyamaan
untuk piringan hitam dikenal sebagai penyamaan RIAA.
2. Pengatur
nada
Bentuk
balikan reaktif banyak digunakan orang untuk membuat pengatur nada, yaitu alat
untuk membuat agar suara rendah (bass) dan suara tinggi (terbel) dapat
diperkuat sendiri-sendiri. Untuk ini dipergunakan rangkaian seperti pada gambar
dibawah ini:
Jika
pengusap potensiometer R2 ada pada a, maka kita peroleh penguatan
bass yang maksimum. Bila penguat potensiometer R6 ada pada titik c,
kita akan dapatkan terbel maksimum. Ramgkaian ini di sebut pengatur nada
baxandall aktif., oleh karena rangkaian pengatur nada ada dalam balikan,
sehingga untuk membuatnya bekeraj diperlukan daya. Adanya balikan reaktif
(menngandung rekatansi) ini mengakibatkan tanggapan amplitudo seperti pada
gambar:
Grafik
tanggapan amplitudo ini menunjukkan isyarat frekuensi rendah (>50 Hz) atau
bas dan isyarat frekuensi tingg (> 10 K Hz) diperkuat sepuluh kali isyarat
pada frekuensi tengah (
1
K Hz). Bentuk taggapan amplitudo seperti ini akan menghasilkan suara musik
dengan bas yang mantap dan trebel yang jernih.
3. Tapis
aktif
Kita
telah membahas tentang tapis RC yaitu ragkaian RC pasif yang di gunakan untuk
mengolah isyarat agar dalam batas-batas tertentu saja yang di teruskan oleh
rangkaian. Kita telah membahas pula rangkaian tapis RC lolos rendah dan
rangkaian RC lolos tinggi seperti di tunjukkan pada gambar:
Fungsi
alih kompleks untuk tapis lolos rendah adalah:
(
=
=
=
=
=
=
merupakan kutub dari fungsi alih kompleks.
Tanggapan amplitudo terhadap frekuensi untuk fungsi alih ini di tunjukkan pada
gambar.
Fungsi alih kompleks
untuk tapis lolos tinggi adalah:
=
=
=
=
=
=
Dengan kutub
=
Dengan bode dan tanggapan amplitudo
di
lukiskan pada gambar
Dari
gambar tampak bahwa tapis RC pasif memberikan tanggapan amplitudo lolos rendah
dan lolos tinggi dengan kemiringan 6 dB/oktaf. Tapis semacam ini di sebut tapis
orde pertama. Seringkali diperlukan tapis dengan orde lebih tinggi, yaitu yang
mempunyai tanggapan amplitudo dengan pembatas 12 dB/oktaf, bahkan 18 dB/oktaf.
Tapis dengan kemiringan 18 dB/oktaf disebut tapis orde tiga. Teoridan pembuatan
tapis orde dua tidaklah sederhana.
Tanggapan
yang menghasilkan juga tidak selalu mengikuti bagan bode seperti pada tapis
orde pertama.
Bentuk
tanggapan amplitudo yang mengikuti bagan bode untuk tapis orde dua atau lebih
tinggi di sebut tanggapan butterworth. Sebagai contoh tanggapan butterworth
untuk tapis lolos rendah orde dua adalah seperti pada gambar:
Tapis
orde dua tersebut biasanya di buat dengan menggunakan rangkaian penguat. Agar
tapis ini dapat bekerja di perlukan catu daya, maka tapis semacam ini di sebut
tapis aktif. Tapis aktif kebanyakan menggunakan penguat operasional (op-amp)
dalam bentuk IC.
Di
sini akan ditunjukkan rangkaian diskret tapis butterwoth lolos rendah dan lolos
tinggi orde dua. Tapis aktif merupakan suatu bahan pembahasan yang amat luas
dan dalam, serta banyak buku yang di tulis khusus tentang ini.
Tapis
aktif butterwoth lolos rendah orde dua di tunjukkan pada gambar 12.32.
tanggapan tapis ini dapat di lihat pada gambar 12.31, dengan
=
=
Pada
tapis aktif di atas R1 = R2 = R dan C1 = 2 C,
C2 = ½ C1 = C, dan bahwa penguatan penguat sama dengan
satu merupakan persyaratan yang harus di penuhi secara ketat. Akibatnya di
perlukan komponen-komponen presisi. Jika ini tidak di penuhi tanggapan
amplitudo yang dapat mungkin berbeda dengan dengan tanggapan amplitudo
butterwoth, yang dapat berakibat terjadinya osilasi. Perhatikan bahwa baliakn
reaktif yang di gunakan adalah baliakan positif. Tapis ini di sebut tapis aktif
sallen-key. Tapis sallen-key lolos tinggi orde dua dengan tanggapan butterwoth
dilukidkan pada gambar 12.33
Tapis
aktif semacam ini dapat di gunakan untuk membuat isyarat musik bernada rendah
masuk ke pengeras suara woofer, isyarat musik bernada menengah ke pengeras
midrange, dan isyarat musik bernada tinggi kepengeras suara tweeter. Sistem
tapis aktif seperti ini di katakan membentuk rangkaian cross over aktif. Dalam
daerah audio tapis aktif seperti ini di gunakan pada lampu disko; warna lampu
di buat sesuai agar warna nyala lampu di buat sesuai dengan tinggi rendah nada
musik.
9.
Penggunaan
balikan untuk pengatur tagangan DC
Kita telah mengenal balikan dc dari
pembahasan terdahulu. Misalnya resistor 56 K
pada gambar 12.25 membentuk balikan dc.
Balikan ini di pasang agar tehnik kerja resistor mantap. Jika terjadi perubahan
tegangan pada satu bagian rangkaian, rangkaian balikan akan melakukan reaksi
untuk melawan perubahan tersebut. Pengertian balikan dc digunakan juga pada
pengatur tegangan catu daya agar tegangan keluaran mantap, tidak turun nilainya
jika ditarik arus beban.
Pengatur
baliakan dc dikenal sebagai lingkar tertutup. Gambar 12.35 menunjukkan satu
contoh rangkaian catu daya yang menggunakan pengatur lingkar tertutup.
Cara
kerja pengaturan tegangan lingkar tertutup pada gambar 12.35 adlah sebagai
berikut. Jika tegangan keluaran turun karena pembebanan, tegangan titik b juga
akan turun. Akibatnya VBE dan Q3 akan turun, arus
kolektor Q3 berkurang, sehingga tegangan ac pada kolektor Q3 akan
naik. Akibatnya VBE pada Q1 dan Q2 akan naik.
Ini akan mengurangi VCE pada Q2 dan Q1,
sehingga tanggapan dc pada keluaran akan naik lagi. Jadi kita bermula dari
tegangan keluaran yang dinaikkan oleh kerja rangkaian balikan. Dengan adanya
balikan, tegangan pada titik b akan dipertahankan vb = 3,9 V + 0,6
V = 4,5 V. Misalkan pengusap R6 ada
pada titik c, maka vb=
VO atau vo
=
vb
=
(4,5 V) = 25,2 V
Jika
pengusap pada R6 ada pada titik a, maka vo = 4 V. Jadi
dengan memutar potensiometer R6, tegangan keluaran dapat diatur agar
berubah dari 4 V hingga 25 V.
Transistor
Q4 digunakan untuk membatasi arus keluaran. Arus keluaran I0
akan memulai R4 dan mengakibatkan beda tegangan sebesar R7
I0 pada VBE untuk transistor Q4. Jika arus
keluaran I0 mengakibatkan R4 I0 >> 0,65
V, maka transistor Q4 akan mengalami penjenuhan sehingga VCC
= 0 V. Dengan demikian VBE(Q1) + VBE(Q2) = -R4 I0
0,6 V, sehingga transistor Q1 dan Q2
akan terputus, tak ada arus basis yang masuk, sehingga VCE(Q1)
menbesar dan tegangan dc keluaran menjadi 0 V. Akibatnya kita akan mendapatkan
lengkung pembebanan seperti pada gambar.
10.
Kemantapan
balikan
1.
Balikan
negativ
Balikan negativ dapat dilukiskan
seprti pada gambar 12.37
Pada balikan negatif
tegangan balikan Vf dipasang sedemikian sehingga isyarat masukan Vi dibuat
lebih lemah oleh adanya tegangan balikan Vf sehingga menghasilkan isyarat
Va<Vi pada pelaksanaanya rangkaian balikan kita pasang seperti pada gambar
12.38 . pada gambar 12.38(a) isyarat Va =Vi –Vf = Vi –(
)
dengan Vf diambil sefasa dengan Vo atau Vf berada pada fase
atau 360
dengan Vi.
Pada gambar 12.38 (b) isyarat Va =
Vi = Vf
akan tetapi Vf berlawanan fase dengan Vo atau Vf berada pada fase 180
dengan Vf = -
Vo.
2.
Tanggapan amplitudo dan tanggapan Fasa
Rangkaian pada gambar
12.38 terdiri dari 2 tahap sehingga pada keadaan lingkar terbuka mempunyai
tanggapan amplitudo untuk penguatan dan fase untuk penguat pada gambar 12.38(a)
adalah seperti gambar 12.39
Tampak bahwa tiap kutub
akan menurunkan tanggapan amplitudo 6 dB/oktaf pada tanggapan fase tiap kutub
akan menyebabkan penurunan fase sebesar 90o pada daerah frekuensi
tengah dimana tanggapan frekuensi untuk penguatan adalah datar penguatan. Maka
untuk penguat 2 tahap isyarat keluaran berfase sama dengan isyarat masukan atau
berada pada fase
untuk penguat yang terdiri dari 3 tahap
tanggapan amplitudo untuk penguatan dan fase yang ditunjukan pada gambar 12.40
Untuk
penguat 3 tahap atau lebih ada 2 nilai frekuensi dimana beda fasa antara
isyarat keluaran dan masukan tergeser fasa +
atau -
terhadap beda fasa pada frekuensi tengah.
3.
tanggapan
frekuensi lingkar tertutup suatu penguat untuk menentukan bentuk.
tanggapan frekuensi
lingkar tertutup suatu penguat bila kita tahu bentuk tanggapan frekuensi
lingkar terbuka. Penguatan lingkar terbuka pada daerah frekuensi tengah dan Kv.it adalah penguatan lingkar tertutup.
Perhatikan gambar 12.44
Pada gambar 12.44
tampak bentuk-bentuk tanggapan amplitudo untuk nilai tepi fasa yang lain. Pada
tepi fasa
ada sedikit kenaikan pada tanggapan amplitudo
lingkar tertutup dititik d secara umum dapat dikatakan bahwa ada tanggapan
amplitudo lingkar tertutup tak mempunyai puncak karena tepi fasa terlalu kecil.
Tanggapan amplitudo lingkat tertutup haruslah memotong tanggapan lingkar
terbuka dengan beda kemiringan tidak lebih dari 6 dB/oktaf. Jika ada kemiringan
lebih dari 6 dB/oktaf yang berarti tepi fasa kurang dari
terjadilah puncak pada tanggapan amplitudo
lingkar tertutup atau dapat menyebabkan osilasi. Yang ditunjukan pada 12.44
untuk tepi fasa
dan
.
11.
Kompensasi
frekuensi
Ada berbagai cara
yang dapat diusahakan agar penguat dalam keadaan lingkar tertutup.
Berada dalam keadaan mantap, yaitu tak berosilas. Ini di lakukan dengan
mengubah tanggap amplitudo lingkar terbuka atau mengubah tanggapan ampliudo
faktor balika. Ini disebut komponensasi frekuensi.
diantara berbagai cara kompensasi frekuensi ada tiga yang sering di gunakan orang, yaitu :
diantara berbagai cara kompensasi frekuensi ada tiga yang sering di gunakan orang, yaitu :
a)
Kompensasi kutub
dominan atau kompensasi tertinggal fasa
b)
Kompensasi terdahulu
fasa.
c)
Kompensasi kutub – nol.
1.
kompensasi
kutub dominan
Kompensasi
ini di lakukan dengan memasang suatu tapis lolos rendah IRC I pada keluaran
penguat seperti dilukiskan pada gambar 12. 45
Gambar 12.45 kompensasi
kutub dominan
Dengan
adanya kompensasi ini tanggapan amplitudo terbuka Gv, lb (ω) berubah menjadi garis a b f. Tanpa kompensasi maka
tanggapan amplitudo lingkar terbuka diberikan oleh garis a c b e . ini
ditunjukkan pada gambar 12.46
Oleh
adanya rangkaian kompensasi pada gambar 12.45 , penguatan lingkar terbuka di
kalikan dengan faktor.
=
=
=
dengan
Akibatnya, terjadi kutub baru dalam
2 1
sehinggah
tanggapan amplitudo lingkar terbuka menjadi seperti dinyatakan oleh garis b f g
h pada gambar 12. 46. Ini berarti kita dapat memasang balikan sehingga Gv,
lt memotong Gv, Ib pada titik g
2.
kompensasi kutub – nol.
Suatu cara lain untuk mengubah tanggapan amplitudo lingkar terbuka adalah
dengan kompensasi kutub – nol seperti ditunjukkan pada gambar 12.47.
Gambar 12.47
penguat lingkar terbuka dengan kompensasi kutub-nol
Fungsi
alih kompleks untuk rangkaian kompensasi di atas adalah
o
(ω) =
=
Dengan
kutub
dan nol
Dengan
adanya kompensasi kutbub – nol fungsi ahli kompleks total penguat menjadi Gv
, lb (ω) Go (ω) .
Untuk
bagan Bode pada gmbar 12.48 :
Gambar 12,12,48 bagaimana rangkaian kompensasi dapat mengubah
tanggapan amplitudo lingkar terbuka .
v, Ib (ω) =
Akibatnya
v, lb (ω)total
=
Jika kita buat
= ω21 , pembilang (j ω + ωZ) dapat menghilang (jω + ω21). Di katakan nol ωz
menghilangkan kutub ω21. Ini di lukiskan pada gambar 12.48.
Tanpa kompensasi kita hanya dapat bekerja dengan penguatan di
atas Gv,it (1) saja, oleh
karena untuk penguatan di bawah Gv
, lb (1) tanggap amplitudo ligkar
tertutup garis
akan bertumbuk dengan tanggapan amplitdo
lingkar terbuka Gv, lb (ω)
dengan beda kemiringan 12 dB/oktaf. Ini dapat menimbulkan osilasi.
Dengan kompensasi kutub – nol di atas, maka kemiringan pada ω21
suhu di hilangkan sehingga tanggap amplitudo lingkar terbuka dari titik b ke
titik c turun dengan kemiringan – 6 dB/oktaf.
3. kompensasi terdahulu
fasa.
Kompensasi ini membentuk kutub pada lengkung
yaitu dengan memasang kapasitor pada
rangkaian balikan ini ditunjukkan pada gambar 12.49.
Balikan yang di gunakan adalah balikan tegangan – paralel dengan
balikan terdiri dari Rf // Cf
.
kita anggap rangkaian balikan ini menghaslkan tegangan balikan vf yaitu
kita anggap rangkaian balikan ini menghaslkan tegangan balikan vf yaitu
Dengan Rit =
+
(1 +
//
)
jika dianggap RB Rit , maka faktor balikan adalah :
jika dianggap RB Rit , maka faktor balikan adalah :
=
=
=
Dengan
=
dan
=
=
Jika penguat lingkar
v
(ω)
(ω)
maka penguat lingkar tertutup
(ω) =
=
Nyata bahwa
=
adalah nol untuk penguatan lingkar
tertutup
(ω) dan
=
adalah kutub untuk
(ω) .
perhatikan bahwa ω2 , sehingga nol ada disebelah kanan kutub.
ini dilukiskan pada gambar 12.50..
perhatikan bahwa ω2 , sehingga nol ada disebelah kanan kutub.
ini dilukiskan pada gambar 12.50..
Garis
e f g h j menyatakan bagan Bode untuk
penguat lingkar terbuka
sedang garis a b c d menyatakn bahwawa
bagan Bode untuk
selama
(ω) tanggap amplitudo lingkar tertutup
(ω)
(ω).
Jika
atau
, maka pengutan lingkar tertutup
(ω)
(ω) .
Akibatnya badab Bode untuk tanggap amplitudo lingkar terbuka
(ω) diberikan untuk lengkung a b h j.
Perhatikan bahwa dengan menggunakan kompensasi terdahulu fasa
memotong bagan Bode untuk tanggapan amplitudo
lingkar terbuka
(ω) dengan beda
kemiringan sebesar 6 dB/oktaf, sehingga penguat lingkar tertutup akan mantap
(tak berosilasi).
C. PENUTUP
o
KESIMPULAN
Usaha untuk
mengembalikan sebagian isyarat keluaran kepada masukkan di sebut balikan
(feed-back). Balikan yang di pasang
untuk memperlemah isyarat masukkan di sebut balikan negatif, sedangkan balikan
yang di pasang untuk memperkuat masukkan di sebut balikan positif.
Suatu balikan di
katakan bersifat positif, bila isyarat masukkan vi menjadi semakin kuat, yaitu bila va>vi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Bab 15 : balikan (feedback). http://kambing.ui.ac.id/onnopurbo/oraridiklat/teknik/elektronika/elektronika-dasar-II-univ-negeri-jember/bab15-balikan-feedback.pdf.
(diakses pada 13 februari 2015, pukul 10:59)
Sutrisno.
1987. ELEKTRONIKA:Teori dan penerapannya
JILID 2. Bandung : Penerbit ITB
Willyriyadi.
2009. Umpan balik (feedback). http://willyriyadi.blogspot.com/2009/12/umpan-balik-feedback.html.(di akses pada
13 februari 2015, pukul 11:27)